Termogulasi

Termoregulasi pada Hewan
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas
Pada hewan homoiterm suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi . Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.

Beberapa adaptasi hewan untuk mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada burung dan mamalia, otot, dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Perilaku adalah hal yang penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi, relokasi, dan sembunyi ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh. Gajah di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan daun telinga ke tubuh. Manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku unik dalam termoregulasi.
Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi
1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.
2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Termoregulasi pada Manusia
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah .
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Mausia menggunakan baju merupakan salah satu perilaku unik dalam termoregulasi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Termogulasi

BAB I

PEMBAHASAN

 

1.1 Analisa Prosedur

Pada praktikum tentang Termoregulasi digunakan alat berupa termometer untuk mengukur suhu tubuh probandus. Termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan aktifitas, yakni setelah berlari. Perlakuan tersebut bertujuan untuk mengetahui pengaturan suhu yang terjadi di dalam tubuh. Pengukuran suhu tubuh juga dilakukan pada probandus laki-laki gemuk, perempuan gemuk, laki-laki kurus, perempuan kurus, laki-laki normal, perempuan normal, dan perempuan yang sakit serta laki-laki yang alkoholik.. Pengukuran dilakukan di mulut, axila, anus, dan skrotum. Pengukuran tersebut bertujuan untuk mengetahui adanya keterkaitan antara jenis kelamin, berat badan, hormon, dan letak terhadap suhu tubuh.

 

 

Pada pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa suhu tubuh laki-laki lebih tinggi dibandingkan suhu tubuh perempuan. Hal ini dapat dikaitkan dengan massa otot pada laki-laki yang cenderung lebih banyak daripada perempuan. Bila massa otot lebih banyak maka akan lebih banyak otot yang berkontraksi dalam tubuh laki-laki dibandingkan perempuan. Bila kontraksi lebih banyak maka panas yang dihasilkan juga akan lebih banyak dan panas ini yang akan meningkatkan suhu tubuh (Bullock, 2001).

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa orang gemuk memiliki suhu tubuh yang lebih rendah dibandingkan orang yang kurus. Hal ini dikarenakan metabolisme pada orang kurus lebih tinggi. Dengan tingginya laju metabolisme maka akan dihasilkan panas yang lebih banyak. Panas tubu inilah yang menyebabkan peningkatan suhu pada orang yang kurus. Sebaliknya orang gemuk memiliki laju metabolisme yang lebih rendah sehingga panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme lebih sedikit dan menyebabkan suhu lebih rendah (Guyton, 1988).

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa suhu tubuh perempuan normal lebih rendah daripada perempuan yang sakit. Kemungkinan hal ini disebabkan perempuan yang tidak sakit, tubuhnya tidak melakukan sistem pertahanan tubuh untuk melawan penyakit tersebut. Sistem pertahanan tubuh tersebut yang menghasilkan panas sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa rata-rata suhu tubuh akan meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas yang dilakukan. Hal ini disebabkan karena adanya kerja otot dan sistem metabolisme yang meningkat yang diakibatkan oleh meningkatnya aktivitas tubuh seseorang. Kerja otot dan meningkatnya sistem metabolisme akan meningkatkan pula suhu tubuh seseorang.

Pada manusia, nilai normal untuk suhu mulut adalah 37°C (98,6°F), akan tetapi paad kelompok orang dewasa muda suhu normal pada waktu pagi rata-rata 36,7°C, dengan standar deviasi 0,2°C. sehingga 95% dari seluruh orang dewasa muda mempunyai suhu mulut pada pagi hari berkisar antara 36,3-37,1°C.berbagai bagian tubuh yang berbeda memiliki suhu yang berbeda, dan besar perbedaan suhu antara bagian-bagian bervariasi dengan lingkungannya. Ekstrimitas umumnya lebih dingin daripada suhu tubuh lainnya. Suhu rectum adalah mewakili suhu inti tubuh dan paling sedikit berubah dengan perubahan suhu sekeliling. Selama kerja, pembentukan panas oleh kontraksi otot terkumpul dalam tubuh , dan suhu rectum normal meningkat sam pai setinggi 40°C. kenaikan ini disebabkan sebagian karena ketidakmampuan mekanisme pembuangan panas untuk mengatasi jumlah kenaikan panas yang dihasilkan, tetapi selain itu juga terdapat pula kenaikan suhu suhu tubuh, yang diperlukan untuk mengaktifkan mekanisme pembuanagn selama kerja. Suhu mulut normal 0,5°C lebih rendah daripada suhu rectum, namun suhu ini juga sering dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk minuman yang panas atau dingin, mengunyah permen, merokok, dan pernafasan melalui mulut (Guyton, 1988).

Suhu pada mulut akan lebih rendah dibandingkan dengan axila dan axila akan memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan anus dan skrotum, karena pada tubuh yang memiliki lipatan-lipatan akan mempunyai banyak pembuluh darah yang artinya metabolisme yang terjadi tinggi. Setiap metabolisme yang terjadi akan memerlukan energy dan akan menghasilkan panas. Hal ini yang menyebabkan suhu pada anus dan skrotum akan lebih tinggi dibandingkan dengan axila dan axila akan lebih tinggi dibandingkan mulut. Suhu pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, karena hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas, sedangkan pada perempuan cenderung normal sehingga kecepatan metabolismenya lebih rendah dibandingkan laki-laki. Suhu pada orang yang telah melakukan aktifitas lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan aktifitas, karena aktifitas akan merangsang peningkatan laju metabolisme yang akan mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Aktifitas (latihan) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3-40°C. Suhu pada seseorang yang gemuk (laki-laki maupun perempuan) lebih tinggi dibandingkan suhu seseorang yang kurus, hal ini disebabkan karena individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain. Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme. Perempuan normal memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang menstruasi, karena pengeluaran hormon progesterone pada masa ovulasi akan meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal (normal) (Gunstream, 2000).

Pada wanita terdapat siklus bulanan tambahan peubahan suhu karena naiknya suhu saat ovulasi. Peningkatan suhu ini berkaitan dngan kerja estrogen yang akan menyebabkan peningkatan kerja otot pada genitalia dan uterus sehingga lebih meudah terangsang. Peningkatan kerja otot ini akan menghasilkan panas yang akan diikuti dengan peningkatan suhu tubuh (Marieb, 2007).

Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Suhu berpengaruh kepada tingkat metabolisme. Suhu yang tinggi akan menyebabkan aktivitas molekul-molekul semakin tinggi karena energi kinetiknya makin besar dan kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul satu dengan molekul lain semakin besar pula. Akan tetapi, kenaikan aktivitas metabolisme hanya akan bertambah seiring dengan kenaikan suhu hingga batas tertentu saja. Hal ini disebabkan metabolisme di dalam tubuh diatur oleh enzim (salah satunya) yang memiliki suhu optimum dalam bekerja. Jika suhu lingkungan atau tubuh meningkat atau menurun drastis, enzim-enzim tersebut dapat terdenaturasi dan kehilangan fungsinya (Biofagri, 2007)

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh adalah kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda, hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme. Kedua rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme. Ketiga hormon pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat. Keempat, fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hampir semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal. Kelima hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormon progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal. Keenam proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C. Ketujuh nutrisi, malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami malnutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain. Kedelapan, aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C. Kesembilan, kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu. Kesepuluh, suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit. Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh (Nursingbegin, 2008).

Faktor lain yang mempengaruhi termoregulasi adalahmetabolisme basal, aktifitas muscular, hormone thyroxine dan epinephrine yang menstimulasi efek pada laju metabolisme, suhu yang berefek pada sel (Marieb, 2007).

Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya (firebiologi, 2007)

Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh (firebiologi, 2007).

 

Gambar 1. Mekanisme Termoregulasi (firebiologi, 2007).

Termoregulasi merupakan respon refleks dan semirefleks yang mencakup perubahan autonom, somatik, endokrin, dan tingkah laku. Penyesuaian termoregulatoris menyakut respon local dan respon refleks yang lebih umum. Respon refleks yang diaktifkan oleh dingin diatur dari hipotalamus posterior, sedangkan yang panas diatur dari hipotalamus anterior. Perangsangan hipotalamus anterior akan menyebabkan vasodilatasi pada kulit dan berkeringat, lesi pada daerah ini akan menyebabkan hipertermia, dengan suhu rectum mencapai 43°C. Perangsanagn pada hipotalamus posterior akan menyebabkan menggigil, dan suhu tubuh turun mencapai suhu lingkunganya (Ganong, 1983).

Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Martini, 1998).

Kelainan pada termoregulasi adalah demam dan hipotermia. Demam merupakan early warning system pada tubuh terhadap penyakit. Apabila terjadi pelepasan toksin oleh mikroorganisme patogen maka sel fagositosis pada sumsum tulang, leukosit polimorfonukleus, monosit, makrofag, dan sel Kupffer akan membentuk pirogen endogen (EP), yakni suatu protein dengan berat molekul 13.000-15.000. pembentukannya pada darah perifer memerlukan energidan dihambat oleh inhibitor-inhibitor sintesis protein. EP selanjutnya akan memasuki daerah preoptik hipotalamus pada otak. Masuknya EP akan menyebabkan pelepasan prostaglandin lokal. Prostaglandin akan meningkatkan set point termoregulasi di hipotalamus sehingga suhu tubuh naik dan menyebabkan demam. Suhu tubuh yang terlalu tinggi dapt membahayakan dan dapat menimbulkan heat stroke yang dapat menyebabkan kematian. Salah satu sifat demam adalah menggigil. Menggigil terjadikarena penempatan set point termoregulasi mendadak berubah dari titik normal ke tinggi. Karena suhu daarh lebih rendah daripada set poin yang terdapat pada hipotalamus maka terjadi respon autonom dengan peningkatan suhu tubuh. Pada kasus ini, orang tersebut akan merasa kedinginan walaupun suhu tubuh tinggi (Ganong, 1983).

Hipertermia merupakan peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah hipertermia. Setiap penyakit atau trauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Hipertermia malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas, yang terjadi ketika orang yang rentan menggunakan obat-obatan anastetik tertentu. Kemudian terdapat hipotermia, yang merupakan pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas, mengakibatakan hipotermia. Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak diketahui selama beberapa jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35˚C, klien mengalami gemetar yang tidak terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai. Jika suhu tubuh turun dibawah 34,4˚c, frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan darah turun. Kulit menjadi sianotik. Jika hipotermia terus berlangsung, klien akan mengalami disritmia jantung, kehilangan kesadaran dan tidak responsif terhadap stimulus nyeri. Dalam kasus hipotermia berat, klien dapat menunjukkan tanda klinis yang mirip dengan orang mati (misalnya tidak ada respons terhadap stimulus dan nadi serta pernapasan sangat lemah). Termometer dengan bacaan khusus rendah mungkin dibutuhkan karena termometer standar tidak ada angka di bawah 35˚C. Radang beku (frosbite) terjadi bila tubuh terpapar pada suhu dibawah normal. Daerah yang terutama rentan terhadap radang dingin adalah lobus telinga, ujung hidung, jari, dan jari kaki. Daerah yang cedera berwarna putih berlilin, dan kers jika disentuh Klien hilang sensasi pada daerah yang terkena. Intervensi termasuk tindakan memanaskan secara bertahap, analgesik dan perlindungan area yang terkena (Nursingbegin, 2008).

Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke, kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang tinggi. Klien beresiko termasuk yang masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme, diabetes atau alkoholik. Yang termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas (mis. fenotiazin, antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. atlet, pekerja konstruksi dan petani). Tanda dan gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual, kram otot, gangguan visual, dan bahkan inkontinensia. Tanda lain yang paling penting adalah kulit yang hangat dan kering (Guyton, 1988).

Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangan elektrolit sangat berat dan malfungsi hipotalamus. Heatstroke dengan suhu yang lebih besar dari 40,5˚C mengakibatkan kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang setinggi 45˚C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ yang terlebih dahulu terkena karena sensitivitasnya terhadap keseimbangan elektrolit. Jika kondisi terus berlanjut, klien menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktif. Terjai kerusakan neurologis yang permanen kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai (Bowen, 2006).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENUTUP

 

2.1 Kesimpulan

Termoregulasi merupakan mekanisme tubuh untuk mengatur suhu agar tetap dalam keadaan homeostatis. Faktor-faktor yang mempengaruhi termoregulasi adalah aktifitas otot, metabolisme, jenis kelamin, kerja thyroxine dan epinephrine, lingkungan, dan obat-obatan tertentu (antipiretik). Beberapa gangguan-gangguan pada sistem termoregulasi adalah demam, hipertermia, hipotermia, pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dan heatstroke.

 

 

2.2 Saran

Sebaiknya dilakukan pengukuran suhu secara duplo agar data yang diperoleh lebih baik dan lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Biofagri, A.R. 2007. Termoregulasi. http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-biofagriar-26422 . diakses pada tanggal 26 April 2010

Bullock, J. 2001. Physiology 4th Edition. Lippincott Williams and Wilkins.USA.

Firebiologi. 2007. Termoregulasi (Pengaturan Suhu Tubuh). www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 26 April 2010

Ganong, W.F. 1983. Review of Medical Physiology. Lange Medical Publications. California.

Guyton, A.C. 1988. Fisiologi Kedokteran. EGC: Penerbit Buku Kedokteran . Jakarta

Marieb, E.N., K.Hoehn. 2007. Human Anatomy and Physiology 7th Edition. Pearson Education, Inc: San Francisco.

Martini. 1998. Fundamental of Anatomy and Physiology 4th ed.. Prentice Hall International Inc., New Jersey

Gunstream,S.E.2000.Anatomy and Phisiology with Integrated Study Guide 2nd Edition.McGraw Hill Company.USA

Nursingbegin.2008.Regulasi Suhu Tubuh.http://www.NursingBegin.com/. html. Diakses pada tanggal 26 April 2010

Bowen,R.2006.Human Physiology. http://www.humannervoussystem.info/. html. Diakses pada tanggal 26 April 2010

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment